Ketulusan Indo Nari, Sando Pea dari Komunitas Adat Kaluppini

Ketulusan Indo Nari, Sando Pea dari Komunitas Adat Kaluppini

Komunitas adat Kaluppini di Kabupaten Enrekang adalah satu komunitas adat yang masih sangat kuat dalam menjaga tradisi dan adat istiadat. Sebagian banyak tradisi dan adat istiadat masih dijalankan secara kuat hingga hari ini, yang sangat kental dengan tradisi Islam. Salah satu pranata budaya yang masih bertahan hingga saat ini adalah dukun melahirkan atau beranak, yang dalam istilah setempat disebut Sando Pea.

Sando Pea memiliki tempat khusus bagi warga Kaluppini. Tidak hanya karena perannya membantu persalinan bagi ibu yang melahirkan, tapi juga akan mendampingi seluruh prosesi kehidupan si anak hingga ia mencapai kedewasaan atau jenjang pernikahan.

“Setiap manusia harus melewati 13 prosesi kehidupan mulai dari dia lahir hingga menikah. Semua prosesi itu membutuhkan keterlibatan Sando Pea,” ungkap Abdul Halim atau Papa Devi salah seorang pemangku adat di Kaluppini.

Seorang Sando Pea idealnya laki-laki, karena 13 prosesi kehidupan tersebut beberapa di antaranya hanya bisa dilakukan oleh laki-laki. Namun dalam perkembangannya Sando Pea perempuan juga diperkenankan. Ada pengaturan tersendiri jika terkait prosesi-prosesi yang tidak bisa dijalankan perempuan, yaitu bisa diwakilkan pada orang lain.

Salah satu Sando Pea yang cukup senior di Kaluppini bernama Siti atau lebih dikenal dengan nama Indo Nari. Indo sendiri berarti ibu, sedangkan Nari adalah nama anak tertua dari Siti. Sehingga Indo Nari bisa diartikan ibu dari Nari. Dianggap tabu memanggil nama langsung seseorang jika ia sudah memiliki anak atau cucu.

Indo Nari tak bisa memastikan umurnya secara pasti. Ketika Nippon (Jepang) masuk ke kampungnya umurnya sekitar 10 tahun. Kemungkinannya sekarang ia sudah berumur 84 tahun, meskipun terlihat lebih muda dan sehat.

Indo Nari orang bersahaja dan sangat perduli dan tulus membantu orang lain. Kini ia tinggal sendiri di Desa Tokkonan, sekitar 10 km dari Desa Kaluppini, namun masih termasuk dalam wilayah adat Kaluppini. Keempat orang anaknya kini di perantauan. Punya 11 cucu dan 1 cicit.

Meski hidup sendiri, Indo Nari sangat mandiri. Ia berkebun kakao dan aneka sayuran. Anak-anaknya sangat jarang datang menjenguk karena sangat jauh dari kampung halaman. Untungnya hampir seluruh warga sekitar adalah kerabat dekatnya sehingga ia tak pernah merasa sendiri.

Membantu persalinan banyak orang Indo Nari tak pernah meminta atau berharap ada imbalan. Ia hanya menerima imbalan kalau sudah dipaksa oleh si pemberi.

“Kadang kalau ada yang memberi sesuatu lalu saya tolak malah mereka paksa-paksa. Terpaksa diterima kalau sudah seperti itu. Tapi saya tidak pernah menetapkan tarif atau meminta, tidak juga mengharap. Saya tulus dan ikhlas membantu. Ini adalah bekal amal saya nanti di akhirat,” katanya.

Kemampuannya membantu persalinan diperoleh dari ibu dan neneknya, meski awalnya ia menolak belajar karena merasa jijik. Ibu dan neneknnya juga dikenal sebagai Sando Pea yang berpengaruh di zamannya.

“Nenek yang memaksa saya belajar membantu persalinan. Katanya untuk jaga-jaga saja, jangan sampai suatu saat butuh dan tak ada yang bisa membantu. Saya awalnya menolak karena tak bisa melihat darah yang banyak.”

Melalui pengetahuan dan keterampilan dari nenek dan ibunya, Indo Nari kemudian banyak mengetahui hal-hal yang penting diketahui dalam membantu persalinan. Termasuk ramuan-ramuan yang dibutuhkan dan pantangan-pantangannya. Sebagai uji coba persalinan pertama adalah membantu persalinan anaknya, sekitar 25 tahun lalu.

“Memang ada aturan di sini sebelum menjadi Sando Pea membantu orang lain pertama-tama harus membantu keluarga sendiri. Setelah membantu persalinan anak saya ini mulailah banyak membantu orang lain.”

Ia pernah beberapa kali membantu ibu hamil dengan kondisi bayi terbalik (sunsang) dengan cara diurut. Padahal dokter sudah mengisyaratkan untuk persalinan melalui operasi caesar.

“Saya urut tiga kali. Setelah diperiksa di komputer posisi bayi sudah bagus kembali.”

Menurutnya, bantuan untuk ibu dengan kondisi bayi sunsang hanya bisa dilakukan ketika usia kandungan sudah mencapai 8 bulan. Di bawah usia memiliki resiko tinggi karena kondisi bayi yang masih sangat rapuh.

Indo Nari juga selalu menyarankan agar pasiennya rajin konsultasi dengan dokter. Ia takut mengambil resiko persalinan yang gagal jika pasiennya tidak benar-benar yakin dengan dirinya.

Di saat membantu persalinan, Indo Nari juga selalu mengedepankan bantuan bidan. Ia tak ingin menjadi dominan jika tak diminta. Ia baru membantu jika bidan sudah benar-benar kewalahan.

Metode persalinan yang dilakukan Indo Nari sedikit berbeda dengan metode persalinan. Jika bidan biasanya menunggu di ‘pintu’ keluar bayi dan kemudian menarik dengan pelan, maka pendekatan Indo Nari adalah mengurut atau mendorong dari atas. Selain karena kebiasaan setempat ia juga tak tahan melihat langsung proses persalinan itu.

Setiap bercerita tentang upaya persalinannya, Indo Nari selalu tertawa. Ia merasa malu takut dibilang kolot. Dalam pandangannya kami dianggap takkan percaya pada kemampuannya dan akan menertawakannya. Ia juga merasa heran kalau ada yang bertanya banyak tentang aktivitasnya itu.

Meski memiliki peran penting di masyarakat adat, keberadaan Sando Pea mulai terancam hilang, tergantikan dengan bidan melalui persalinan modern. Warga pun sebenarnya merasa nyaman dibantu oleh Sando Pea dibanding bidan. Selain karena pengalaman juga karena ada hal-hal dalam persalinan yang hanya bisa diberikan oleh Sando Pea, yaitu pemberkatan pada bayi.

“Sando Pea biasa memberi ramuan atau madu dan mendoakan anak agar kelak sehat dan berguna bagi masyarakat dan agama. Ini yang tidak diperoleh dalam persalinan modern,” ungkap Papa Devi.

SEKOLAH ADAT SAMABUE

Masyarakat adat sudah mendapatkan pendidikan yang bersifat formal mulai dari TK sampai perguruan tinggi. Dalam pendidikan formal masyarakat adat dituntut untuk bias baca tulis dan mengetahui sejarah Indonesia yang didominasi oleh sejarah kerajaan. Masyarakat adat juga mempelajari bahasa Indonesia serta bahasa asing. Pendidikan formal membuat masyarakat adat harus bercita-cita meninggalkan kampong halaman demi mengenyam pendidikan formal. Anak-anak pun pergi ke kota untuk mengenyam pendidikan. Kadang kala mereka ingin menetap di kota tersebut dan mereka malu untuk berbahasa daerah mereka.

Indonesia memiliki keanekaragaman yang di dalamnya terdapat berbagai adat istiadat, suku, bangsa, bahasa dan budaya yang terangkum dalam identitas. Namun, bahasa daerah yang merupakan identitas masyarakat adat yang sangat melekat dalam diri mereka sekarang ini hamper jarang digunakan karena merasa malu untuk menggunakannya. Dalam pendidikan formal tidak diajarkan tentang sejarah identitas asli para pelajar atau dianjurkan untuk berbahasa daerah. Seiring berjalannya arus modernisasi yang membuat generasi muda mengesampingkan bahasa daerah.

Kalimantan Barat yang memiliki banyak komunitas masyarakat adat didalamnya juga memiliki permasalahan dengan hamper hilangnya identitas sebagai masyarakat adat. Karena itulah pendidikan adat yang terdapat di sekolah adat harus hadir ditengah-tengah masyarakat adat.

Lanjutkan membaca “SEKOLAH ADAT SAMABUE”

NARASI PEREMPUAN ADAT ATAS RUANG HIDUPNYA

img_7529

Bogor, 16/12/2016. Salah Satu Misi Persekutuan Perempuan Adat Nusantara – Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (PEREMPUAN AMAN) adalah membela dan memperjuangkan pengakuan, penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak-hak perempuan adat serta penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan adat. Menghadirkan narasi perempuan adat terkait sumberdaya alam merupakan satu bagian dari upaya untuk merealisasikan misi PEREMPUAN AMAN tersebut. Harapan ke depannya pengalaman perempuan adat tidak lagi ditinggalkan atau tenggelam oleh narasi besar advokasi kebijakan sumberdaya alam.

3 Perempuan Adat yang menjadi Narasumber salah satunya adalah Wilhelmina Seni menceritakan hasil tulisannya yaitu “Tentang Hidup dan Penghidupan Perempuan Adat di Tanah Adat Rendu Butowe”  tentang 2 perempuan adat menjadi kisah yang memberikan motivasi bagi Perempuan Adat di seluruh nusantara dalam memperjuangkan hak mereka sebagai Perempuan Adat. “Mempertahankan hidup tidak semudah membalik telapak tangan. Apalagi dengan status janda yang memiliki anak. Mama Imelda Dheta dan anak sulungnya, Hermina Mawa, keduanya menjalani hidup sebagai orangtua tunggal bagi anak-anak mereka, setelah ditinggal mati oleh suami tercinta. Aku mendengar dari cerita warga bahwa kedua mama ini adalah penggerak yang membuat perempuan-perempuan di Desa Rendu Butowe berani menghadapi Pemerintah Nagekeo dan aparat kepolisian yang masuk secara paksa ke lokasi pembangunan Waduk Lambo. Tanpa diperintah, dikomando atau direncanakan untuk melawan pemaksaan aparat, dengan sigap delapan orang perempuan membuka baju dan bertelanjang dada. Aksi ini didahului oleh Mama Imelda Dheta, kemudian diikuti oleh Mama Hermina Mawa, dan 6 mama lainnya. Mereka melihat Ibu Noben da Silva dipukul tangannya oleh aparat yang tidak memakai seragam dinas. Atas dasar itu, aku kesana untuk mengetahui apa saja yang dilakukan oleh perempuan perempuan di Desa Rendu Butowe yang selalu siap mempertahankan tanah tumpah darahnya.”

Penggalan Cerita Tentang Bagaimana perjuangan Perempuan adat dari Desa Rendu Butowe yang menolak pembangunan waduk yang berdampak buruk bagi wilayah kehidupan mereka yang selama ini berasal dari sungai Lowose membelah wilayah adat Rendu kita terancam kembali. Rencana pembangunan waduk lambo ini sudah di canangkan pada tahun 2002 dan tahun itu juga sudah ditolak oleh masyarakat setempat. Pada tahun 2002 itu nama waduknya adalah Mbaiy, tetapi lokasinya tetap sama setelah ditolak tahun yang sama di kabupaten Ngada. Di tahun 2005, maka terbentuklah kabupaten Nagakeo. Pada tahun 2015 kemarin dicanangkan kembali pembangunan waduk lambo pada lokasi yang sama yaitu di Lowose kabupaten Nagakeo. Ancaman dan Intimidasi tidak membuat perjuangan mama Imel dan mama Mince merebut wilayah adat mereka berhenti begitu saja. Perlawan mereka menjadi semangat bagi seluruh anggota komunitas adat untuk menolak pembangunan waduk.

pengalaman perempuan adat atas ruang hidup dan sumber-sumber penghidupannya sangat beragam. Hal tersebut memperlihatkan pada kita bahwa isu sumberdaya alam bagi perempuan adat bukan sekedar soal kebijakan lokal, nasional dan internasional. Malah, bagi perempuan adat isu sumberdaya alam erat dengan kehidupannya sehari-hari, pengetahuannya, dapurnya bahkan tubuhnya.

“Menghadirkan narasi Perempuan adat atas ruang hidupnya” diharapkan dapat membuka lebar ruang bagi perempuan adat menuturkan pengalaman dan pengetahuannya atas ruang hidupnya. Selain itu menghadirkan pengalaman dan pengetahuan perempuan adat terkait sumberdaya alam kepada kalangan publik. FN

menghadirkan-narasi-perempuan-adat-atas-ruang-hidupnya_draft