Oleh Sahnil 

Sekelompok perempuan adat sibuk meramu bahan jamu di Desa Montong Baan Selatan, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dari tangan para perempuan adat yang cekatan itu, lahir aneka ramuan tradisional yang menyehatkan.

Membuat jamu menjadi salah satu kegiatan yang saat ini ditekuni oleh banyak perempuan adat di Lombok. Para perempuan adat menjadi peracik jamu yang berasal dari bahan-bahan lokal, seperti jahe merah, kunyit, temulawak, dan lain-lain. Ramuan jamu itu kemudian disulap menjadi komoditi yang bernilai tinggi karena, selain segar dikonsumsi, juga bisa menaikkan daya tahan tubuh.

Salah satu kelompok yang kerap memproduksi jamu di Lombok, adalah para perempuan adat anggota Persekutuan Perempuan Adat Nusantara Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (PEREMPUAN AMAN) di wilayah pengorganisasian Pengurus Harian Komunitas (PHKom) Montong Baan. Kelompok tersebut mampu memproduksi jamu secara masif dan mengirimnya ke luar desa untuk memenuhi permintaan pasar di daerah-daerah lain NTB dan Bali.

Dewi Kustina, anggota PEREMPUAN AMAN PHKom Montong Baan, mengatakan bahwa pengrajin jamu di kampungnya kini semakin banyak jumlahnya seiring dengan naiknya permintaan pasar akan jamu. Sayangnya, peningkatan produksi jamu yang tinggi itu, diiringi dengan melambungnya harga bahan mentah jamu, khususnya jahe merah yang biasanya Rp40 ribu per kilogram, namun naik sampai dua kali lipatnya.

“Ini yang dihadapi pengrajin jamu tradisional di Lombok. Harga bahan mentahnya tinggi, sehingga sulit kami berkembang,” kata Dewi Kustina pada Selasa (18/1/2022).

Dewi menjelaskan bahwa meramu jamu bukan sekadar menggeliatkan roda ekonomi, tetapi juga melestarikan warisan leluhur.

“Warisan leluhur ini harus dilestarikan dan dikembangkan,” tegasnya.

Dewi menuturkan, Masyarakat Adat Sasak di Lombok meyakini kalau jamu berbahan mentah yang segar dari alam, memiliki khasiat ampuh untuk menaikkan daya tahan tubuh untuk bisa melawan penyakit, apalagi di tengah situasi pandemi, di mana badan membutuhkan ketahanan yang baik untuk bisa melawan berbagai virus. Masyarakat Adat juga meyakini bahwa alam memiliki unsur paling sempurna yang dibutuhkan oleh tubuh manusia karena raga pun terdiri dari unsur-unsur yang berasal dari alam.

“Itulah mengapa kaum perempuan adat (di Masyarakat Adat) Sasak rajin sekali mengelola aneka tanaman untuk dijadikan jamu sebagai penangkal penyakit seperti yang diajarkan oleh leluhur,” ungkap Dewi.

Ia menyebut bahwa belakangan ini permintaan jamu yang berkhasiat untuk menjaga imun tubuh dengan bahan baku utama jahe, kunyit, dan temulawak, meningkat pesat di pasar lokal.

Dewi menerangkan kalau jamu buatan Masyarakat Adat dari Lombok itu, dijual bukan dalam bentuk cair yang dikemas dalam botol, namun serbuk kering yang dikemas menggunakan plastik, sehingga jamu bisa tahan lama dan praktis meski dikirim dalam jarak yang relatif jauh.

Berkat keterampilan meracik jamu itu, kelompok perempuan adat di sana dapat ikut menopang ekonomi keluarga. Penghasilan dari meracik dan menjual jamu memberikan kontribusi pendapatan bagi para perempuan adat dan keluarga. Selain itu, perputaran industri jamu juga membuat petani tanaman obat ikut sejahtera karena produksi pertanian para petani dapat diserap pasar secara maksimal. Sehingga, harga-harga tanaman obat pun punya nilai atau pasar yang bagus di kalangan petani lokal.

“Itulah dinamika pengrajin jamu di Lombok,” tutur Dewi. “Kami mewarisi jamu hasil karya leluhur yang kemudian kami kembangkan menjadi mesin ekonomi yang bisa menghidupi keluarga secara berkesinambungan.”

Wakil Ketua DPRD Lombok Timur Daeng Paelori menyatakan bahwa jamu yang dipelopori oleh para perempuan adat di Lombok itu perlu dikembangkan dan harus mendapat perhatian dari pemerintah.

“Ini merupakan bentuk para perempuan untuk meningkatkan taraf ekonomi berbasis kearifan lokal,” katanya pada Selasa (18/1/2022).

Daeng Paelori mengatakan bahwa dirinya telah menjadwalkan untuk bertemu langsung dengan para pengurus dan anggota kelompok pengrajin jamu itu untuk bisa memberikan dukungan sekaligus melihat secara langsung proses pembuatannya. 

“Sebagai bentuk dukungan, saya telah memesan jamu tradisional hasil racikan perempuan Lombok untuk karyawan kantor karena jamu ini menyehatkan tubuh,” ujarnya.

Penulis adalah jurnalis rakyat di NTB.

Sumber:

https://aman.or.id/news/read/perempuan-adat-montong-baan-lestarikan-jamu?fbclid=IwAR3XRbABx6X1oCelmMi14gmJs8SCle0dn0Ny1nXONYXqn4xksmg-uVbrBQY